Get Through It

May 6, 2007

Arti Sahabat

Filed under: Just My Thought

Ngasi kejutan ulangtahun yang aneh…
Temen-temen KKNku, tega nian (dan kok sempat-sempatnya) tengah malam di ketinggian kaliurang, nyalah-nyalahin, bentak-bentak, marah-marah nuduh aku njelek-jelekin mereka & malah dukung tim KKN lain. Dah gitu yang belain aku cuma 1 orang. Dan sopannya, mereka baru berhenti ngerjain+ngasi selamat ultah setelah aku nangis. Dongkol dikit sih, tapi jadi geli juga hehe..

Teman narsis…
Ehem…sapa yang ndak seneng punya temen dgn hobi sama? Temen-temen komsel bener-bener yang paling oke dalam foto-foto, hahaha. Kalo ada lomba, ikut lagi yok, sapa tau menang lagi, hehe.

Tong sampah…
Sadar ndak sadar seorang sahabat terkadang (ato sering?) jadi tong sampah. Makasi buat temen-temen yang bikin aku ngerti artinya sabar, dan kubikin ngerti artinya sabar.

Parameter…
Pengingat kalo kita sudah melangkah terlalu jauh. Ngasi tau sifat-sifat dan kecenderungan alami kita karena kita sering ‘ndak ngrasa’ dgn kelakuan kita sendiri (gajah di pelupuk mata ndak tampak, kuman di seberang lautan tampak). Ups…

Menangislah kalau kau ingin, aku di sini bersamamu…
Diucapkan salah satu sahabatku waktu aku ngalami masa-masa terburuk dalam hidupku. Saat di mana hati terluka terlalu dalam dan kata penghiburan sia sia, aku bersyukur punya tempat untuk menangis.

Selalu ada…
Kurasa hanya Dia yang cocok dengan kriteria ini. Sejauh ini, ndak ada manusia yang selalu bersamaku stiap detik kecuali Dia. Penasihat dan Penghibur terbaik yang pernah kumiliki :)

Menguatkan di saat aku lemah…
Syarat mutlak seorang sahabat ya? Ndak juga, beberapa teman justru semakin melemahkan di saat aku lemah. Untungnya lebih banyak yang menguatkan, hahaha…

Album kenangan…
Bareng-bareng bolos, bareng-bareng diancam nilai rapornya diturunin, bareng-bareng nyomblangin orang demi es teh, bareng-bareng nge-fans guru…kangen temen-temen SMA…
Bareng-bareng ke kota sebelah cuma buat nonton 21 (syukurlah di jogja sekarang ada 21), bareng-bareng susur malioboro dari ujung ke ujung, bareng-bareng masak, bareng-bareng  nyoba makanan aneh,  bareng-bareng lama di kamar pas mpe ditegor, bareng-bareng mlulu… hahaha

Pemberi nama panggilan…
Cukuplah sudah nama-nama yang kalian beri. Semasa SMA kalian ngasi panggilan pantat, wuche (wuchereria bancrofti), astrinul. Semasa di pengok kalian ngasi panggilan cring dan sum. Semasa KKN kalian ngasi panggilan yayuk parabola, rita meteor, astri astronot. Hiks…
Namaku astri! Tanpa embel-embel. Eh, tapi kalo mau manggil astri cantik boleh lah, hehehe…

Kematian

 
Nemuin (lagi) tulisan orang2 tentang kematian. Jadi pengen ikutan nulis, hehe. Banyak yang ndak seneng ngomongin hal satu ini, soalnya banyak orang takut sama kematian dan apa yang menanti setelah kematian itu, setelah dosa kita diperhitungkan. Dikatakan kalo upah dosa itu maut. Haruskah kita takut? Kurasa orang yang punya jaminan setelah kematian ndak akan terlalu khawatir dan takut. Kalo dimisalkan jaminan kekayaan, orang yang berlimpah duit ndak akan was-was buat nyekolahin anaknya, beda sama orang yang ndak punya duit, bakal ketar ketir bayangin biaya sekolah anaknya. Dalam hal kematian, apakah ‘kebaikan yang telah kita lakukan semasa hidup’ bisa jadi jaminan ke sorga? Hal ini sering dijadiin alasan orang Kristen ndak mau ke gereja. Cukup berbuat baik aja.

Personally, kurasa ndak ada orang yang berbuat baik cukup banyak buat bayar dosa2nya.  Fenomena saat ini, dosa udah sedemikian dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dah ndak nampak jahat. Misal : boong, nglanggar lampu merah, nyontek, mengumpat (misuh), nggosip, marah, menghina, mikir yg jelek2, dll. Beda nasibnya dengan ‘perbuatan baik’ yang belum dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. Coba satu hari aja, kita bener2 ngitung jumlah kebaikan dibandingkan dosa kita. Banyak yang mana? Kalo banyak yg kebaikan? Hehe, baguslah… Gimana dengan yang dulu2? Hari dimana kita sama sekali ndak waspada dengan apa yang kita lakukan. Apa iya perbuatan baik kita bisa nutupi seluruh dosa kita?

Titus 3:5
Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.

Perbuatan baik ndak nyelametin kita. Lha…kalo gitu apa berbuat baik itu sia-sia? Hehe, jgn protes dulu. Perbuatan baik sama sekali ndak sia-sia. Akan ada upah untuk perbuatan baik.

Amsal 22:9
Orang yang baik hati akan diberkati

Galatia 6:9
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah

1 Petrus 3:13
Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?

Namun jgn salah mengartikan bahwa karena perbuatan baik kita lah, kita bisa selamat. Berapa pun banyak kebaikan yang kita lakukan, ndak akan bisa nyelametin kita. Menurut hukum, kita berbuat, kita menanggung akibatnya. Hekh…bayangin aja kalo disuruh nanggung akumulasi dari dosa2 seumur hidup kita..

Huf…Bersyukurlah… Bersyukurlah kita punya Yesus. Dia yang nanggung dosa kita kalo kita mengaku dosa dan percaya padaNya.

Ibrani 9:28
Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Karena itu, kalo setelah mati kita masuk surga, itu bukan karena kita baik. Itu karena Dia yang sudah membayar dosa kita. Dosa kita tetap ada, namun Dia akan menebus semua dosa kita ketika kita percaya padaNya. Keselamatan adalah anugerah. Perlunya kita berbuat baik adalah sebagai wujud kita mengasihi Dia dan menaati perintahNya. Jelas kita harus taat padaNya kalo kita mengklaim Dia adalah Tuhan. Hehe, jangan bikin peraturan atau standar sendiri tentang apa yang harus dilakukan, apa yang boleh dilakukan, dan apa yang ndak boleh dilakukan. Hm…beberapa orang Kristen itu ‘atheis praktek’. Secara teori mengaku punya Tuhan, secara praktek tidak mengakui dan tidak menghormati keberadaan Tuhan. Tidak mau mempunyai persekutuan denganNya. Sebisa mungkin janganlah kita jadi ‘atheis praktek’. Klo seperti itu, keselamatan kita perlu dipertanyakan (Yohanes 3: 36).

Nulis artikel ini, bukan brarti bahwa aku adalah seorang yang sangat benar, sangat saleh, selalu berbuat kebaikan, dan…suka menghakimi. Maaf kalo kesannya gitu, sebenernya ndak. Aku cuma ingin menuangkan pendapat. Aku pun masih belajar dan perlu lebih banyak mengerti.

Salah satu orang terdekatku pernah bilang, “Kalo dah tua, gpp kamu sakit diabet. Kalo masih muda jangan”. Aku tanya, “Knapa?”. Dia jawab, “Klo dah tua baru kena penyakit trus mati, paling ndak dah sempat ngrasain kesenengan hidup lumayan lama. Kalo masi muda dah mati, gak sempat ngrasain segala sesuatu”. Kalo pun misal terjadi seperti itu, aku sempat merasakan kesenangan hidup sampai tua, lalu mati dan terjun bebas ke neraka, ukh..mending ndak deh. Hidup cuma bentar. Umur manusia makin lama makin pendek (Kejadian 6:3, Mazmur 90:10), sayang banget kalo hidup sebentar trus nyemplung neraka.

 

Setelah Kematian : Surga atau Neraka
Udah banyak bgt kesaksian orang Kristen yang beruntung menyaksikan surga dan neraka.  Surga dan neraka yang mereka lihat sama seperti yang digambarkan Alkitab, dan di buku mereka digambarkan dengan sangat detail. Beberapa buku yang aku punya, Heaven is so Real by Choo Thomas, Surga by Jaerock Lee, 23 Minutes in Hell by Bill Wiese, Neraka by Jareock Lee, Perjalanan Surga dan Neraka (kumpulan kesaksian jemaat JKI Semarang).
Dari buku-buku mereka, aku baru tau kalo neraka itu sedemikian mengerikannya. Kadang ndak kuat bacanya, sampe nangis. Bayangin gimana kalo kita liat seseorang yang dalam keadaan sadar, dikerat daging sedikit demi sedikit sampai tampak organ dalam. Jelas orang itu gak cuma nangis dan njerit, pasti dia berusaha lari. Percuma. Orang yang ditetapkan di neraka gak akan bisa lari atau minta tolong. Lalu organ dalam orang itu dikerat sampai habis. Lalu semua pulih lagi, lalu dikerat lagi, terus menerus begitu. Hanya ngebayangin aja, rasanya sakit..

Ada beberapa link tentang kesaksian mereka:
http://www.choothomas.com/
http://www.spiritlessons.com/Documents/BillWiese_23MinutesInHell_Text.htm -> ada pdf hasil transfer cd audionya

Last word, tetep smangat!!! 

1 Tesalonika 5:9
Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus

Roma 6:23
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita
.

 

 

April 13, 2007

Tuhan itu Baik

Filed under: My Beloved ONE

Ada dua orang yang mengadakan perjalanan bersama. Mereka membawa seekor keledai untuk mengangkut barang-barang mereka, sebuah obor untuk menerangi jalan di waktu malam, dan seekor ayam, yang merupakan teman keledai itu. Ayam itu duduk di kepala keledai sepanjang perjalanan. Salah seorang di antaranya sangat saleh, sedangkan seorang yang lainnya tidak percaya pada Tuhan. Sepanjang jalan mereka sering berbincang-bincang tentang Tuhan. "Tuhan itu sangat baik," kata orang yang pertama. "Kita akan lihat jika pendapatmu itu bisa bertahan dalam perjalanan ini," kata orang yang kedua. Menjelang petang, mereka tiba di sebuah desa kecil, dan mereka mencari tempat bermalam. Meskipun mereka sudah mencari kesana kemari, tapi tidak seorang pun menerima mereka. Dengan berat hati mereka meneruskan perjalanan sampai keluar kota itu, dan mereka memutuskan tidur di sana. "Saya pikir kamu tadi bilang bahwa Tuhan itu baik," kata orang kedua dengan sinis. "Tuhan telah memutuskan bahwa di sinilah tempat bermalam kita yang terbaik," jawab temannya. Mereka memasang tempat tidur mereka di bawah sebuah pohon yang besar, di samping jalan menuju ke desa tadi, lalu mengikat keledai mereka lima meter dari tempat tidur mereka. Ketika mereka mau menyalakan obor, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Seekor singa menerkam keledai mereka hingga mati dan menyeretnya untuk dimakan. Dengan segera kedua orang itu memanjat pohon agar selamat. "Kamu masih bilang bahwa Tuhan itu baik?" kata orang yang kedua dengan marah. "Jika singa itu tidak menerkam keledai kita, ia tentunya menyerang kita. Tuhan memang baik," jawab orang yang pertama. Beberapa saat kemudian terdengar jeritan ayam mereka. Dari atas pohon, mereka bisa melihat bahwa seekor kucing liar telah menerkam ayam mereka dan menyeretnya ke sana kemari. Sebelum orang kedua sempat berkata sesuatu, orang yang pertama mengatakan, "Jeritan ayam itu sekali lagi menyelamatkan kita. Tuhan itu baik." Beberapa menit kemudian hembusan angin kencang memadamkan obor mereka, yang merupakan satu-satunya penghangat badan mereka di malam yang kelam itu. Sekali lagi orang yang kedua mengejek temannya. "Tampaknya kebaikan Tuhan terus bekerja sepanjang malam ini," katanya. Kali ini, orang yang pertama diam saja Pagi hari berikutnya kedua orang itu kembali menuju desa itu untuk mencari makanan. Mereka segera mendapati bahwa segerombolan besar perampok telah menyerang desa itu semalam dan merampok seluruh desa itu. Mengetahui hal ini orang yang pertama berkata, "Akhirnya menjadi jelas bahwa Tuhan itu memang sangat baik. Seandainya kita bermalam di desa ini, maka kita pasti sudah dirampok bersama seluruh desa ini. Seandainya angin tidak memadamkan obor kita, maka para perampok itu, yang pasti melewati jalan di dekat tempat kita tidur , akan melihat kita dan merampok barang-barang kita. Jelas, Tuhan itu baik."

 

cerita rakyat Yahudi, sumber http://www.giki.org/renungan/renungan13.htm

 

Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat kau mengerti Satu hal tanamkan di hati: Indah semua yang Tuhan beri

April 9, 2007

Pernahkah Merasa Sesak?

Filed under: Just My Thought

Kadang, aku perlu menenangkan diri. Membuang segala kesumpekan ini. Rasanya sesak. Sekali-kali segalanya tampak kabur. Orientasiku menghilang. Melakukan apa yang tidak ingin kulakukan, seperti robot. Berontak untuk melepaskan diri namun kembali terjerembab dalam lembah permasalahan yang berbeda. Bertemu dengan orang yang tidak ingin kutemui, ngobrol dengan orang yang tidak kusukai, lalu..ingin bertemu dengannya. dia, yang secara sambil lalu, membuatku merasa penting. dia, dengan senyumnya yang polos memberikan setitik warna yang akhirnya pun jatuh di air keruh.

Ketika detik tidak mau berhenti, ketika menit dan jam melalukan diri, pandanganku tertutup dengan apa saja yang harus kulakukan, kapan semua itu bisa selesai kulakukan. Manusia bodoh kah aku? Yang tidak mampu melepaskan kungkungan dan batasanku sendiri. Yang selalu bisa mengurai simpul keterikatanku, namun kembali terikat dengan simpul yang lebih kuat.

Ada sekali waktu dimana aku ingin membuang semuanya. Aku yakin aku mampu menyelesaikan segala sesuatu yang harus kulakukan. Aku hanya tidak suka dengan perasaan yang mengatakan bahwa aku harus menyelesaikannya. Ada bagian "terbaik" dalam hidup dimana kita ingin berhenti di sana. Ada juga bagian "kesengsaraan", "kepedihan", "kesepian" yang banyak orang bahkan tidak mau melepaskannya.

Hidup yang saling bersentuhan, berkaitan, dan berkejaran. Aku menyukainya. Sungguh. Aku menyayanginya. Sungguh. Aku sedikit bosan padanya…

Ketika aku menemukan Dia. Sangat manis. Sangat baik. Sangat indah. Menjadi sesuatu yang bahkan terlalu manis untuk digambarkan. Mengenal Dia, aku mengerti, ketika aku marah karena dikhianati, berapa banyak pengkhianatanku. Berapa sering aku menyakiti Dia. Ketika malam meliputi jiwaku, aku masih belum mengerti, berapa banyak Dia menyentuh hatiku. Terlalu banyak. Perasaan pulih yang tidak kujaga terlalu lama. Terlalu sering aku mengadu, menjerit, menuntut. Dia terdiam, memberi, menanti. Tidakkah terasa sepi? Tidakkah terasa sakit? Tidakkah Dia sering merasa kecewa? Rasanya sakit! Sementara aku yang begini ini tidak mampu menanggungnya, tidak mampu bertahan. Dia, dengan penuh kebaikan, penuh kesabaran, perlahan mengangkat bebanku, membantuku menguraikan simpul hidupku, memulihkan hatiku yang tercabik oleh orang lain maupun oleh diriku sendiri.

Apakah aku menyadarinya? Ataukah aku terlalu tenggelam dalam ritme hidup yang bersahut-sahutan. Bodoh! Sungguh pintar aku memanfaatkan Dia. Setelah manis, sepah kubuang. Terluka kah Dia? Kurasa. Namun kenapa ketika aku minta maaf, Dia memaafkanku, ketika aku menangis, Dia mengembangkan tangan, memelukku, mengatakan segalanya akan baik-baik saja bersama dengan Dia. Entah berapa kali aku menyesali perbuatanku. Aku tidak ingin menyakiti Dia lagi…

Sungguh, ketika kamu menemukan yang terpenting dalam hidupmu, don’t ever let go. As for me, I will never let HIM go.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M