Nemuin (lagi) tulisan orang2 tentang kematian. Jadi pengen ikutan nulis, hehe. Banyak yang ndak seneng ngomongin hal satu ini, soalnya banyak orang takut sama kematian dan
apa yang menanti setelah kematian itu, setelah dosa kita diperhitungkan. Dikatakan kalo
upah dosa itu maut. Haruskah kita takut? Kurasa orang yang punya jaminan setelah kematian ndak akan terlalu khawatir dan takut. Kalo dimisalkan jaminan kekayaan, orang yang berlimpah duit ndak akan was-was buat nyekolahin anaknya, beda sama orang yang ndak punya duit, bakal ketar ketir bayangin biaya sekolah anaknya. Dalam hal kematian, apakah ‘kebaikan yang telah kita lakukan semasa hidup’ bisa jadi jaminan ke sorga? Hal ini sering dijadiin alasan orang Kristen ndak mau ke gereja. Cukup berbuat baik aja.
Personally, kurasa ndak ada orang yang berbuat baik cukup banyak buat bayar dosa2nya. Fenomena saat ini, dosa udah sedemikian dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dah ndak nampak jahat. Misal : boong, nglanggar lampu merah, nyontek, mengumpat (misuh), nggosip, marah, menghina, mikir yg jelek2, dll. Beda nasibnya dengan ‘perbuatan baik’ yang belum dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari. Coba satu hari aja, kita bener2 ngitung jumlah kebaikan dibandingkan dosa kita. Banyak yang mana? Kalo banyak yg kebaikan? Hehe, baguslah… Gimana dengan yang dulu2? Hari dimana kita sama sekali ndak waspada dengan apa yang kita lakukan. Apa iya perbuatan baik kita bisa nutupi seluruh dosa kita?
Titus 3:5
Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.
Perbuatan baik ndak nyelametin kita. Lha…kalo gitu apa berbuat baik itu sia-sia? Hehe, jgn protes dulu. Perbuatan baik sama sekali ndak sia-sia. Akan ada upah untuk perbuatan baik.
Amsal 22:9
Orang yang baik hati akan diberkati
Galatia 6:9
Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah
1 Petrus 3:13
Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?
Namun jgn salah mengartikan bahwa karena perbuatan baik kita lah, kita bisa selamat. Berapa pun banyak kebaikan yang kita lakukan, ndak akan bisa nyelametin kita. Menurut hukum, kita berbuat, kita menanggung akibatnya. Hekh…bayangin aja kalo disuruh nanggung akumulasi dari dosa2 seumur hidup kita..
Huf…Bersyukurlah… Bersyukurlah kita punya Yesus. Dia yang nanggung dosa kita kalo kita mengaku dosa dan percaya padaNya.
Ibrani 9:28
Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.
Karena itu, kalo setelah mati kita masuk surga, itu bukan karena kita baik. Itu karena Dia yang sudah membayar dosa kita. Dosa kita tetap ada, namun Dia akan menebus semua dosa kita ketika kita percaya padaNya. Keselamatan adalah anugerah. Perlunya kita berbuat baik adalah sebagai wujud kita mengasihi Dia dan menaati perintahNya. Jelas kita harus taat padaNya kalo kita mengklaim Dia adalah Tuhan. Hehe, jangan bikin peraturan atau standar sendiri tentang apa yang harus dilakukan, apa yang boleh dilakukan, dan apa yang ndak boleh dilakukan. Hm…beberapa orang Kristen itu ‘atheis praktek’. Secara teori mengaku punya Tuhan, secara praktek tidak mengakui dan tidak menghormati keberadaan Tuhan. Tidak mau mempunyai persekutuan denganNya. Sebisa mungkin janganlah kita jadi ‘atheis praktek’. Klo seperti itu, keselamatan kita perlu dipertanyakan (Yohanes 3: 36).
Nulis artikel ini, bukan brarti bahwa aku adalah seorang yang sangat benar, sangat saleh, selalu berbuat kebaikan, dan…suka menghakimi. Maaf kalo kesannya gitu, sebenernya ndak. Aku cuma ingin menuangkan pendapat. Aku pun masih belajar dan perlu lebih banyak mengerti.
Salah satu orang terdekatku pernah bilang, “Kalo dah tua, gpp kamu sakit diabet. Kalo masih muda jangan”. Aku tanya, “Knapa?”. Dia jawab, “Klo dah tua baru kena penyakit trus mati, paling ndak dah sempat ngrasain kesenengan hidup lumayan lama. Kalo masi muda dah mati, gak sempat ngrasain segala sesuatu”. Kalo pun misal terjadi seperti itu, aku sempat merasakan kesenangan hidup sampai tua, lalu mati dan terjun bebas ke neraka, ukh..mending ndak deh. Hidup cuma bentar. Umur manusia makin lama makin pendek (Kejadian 6:3, Mazmur 90:10), sayang banget kalo hidup sebentar trus nyemplung neraka.
Setelah Kematian : Surga atau Neraka
Udah banyak bgt kesaksian orang Kristen yang beruntung menyaksikan surga dan neraka. Surga dan neraka yang mereka lihat sama seperti yang digambarkan Alkitab, dan di buku mereka digambarkan dengan sangat detail. Beberapa buku yang aku punya, Heaven is so Real by Choo Thomas, Surga by Jaerock Lee, 23 Minutes in Hell by Bill Wiese, Neraka by Jareock Lee, Perjalanan Surga dan Neraka (kumpulan kesaksian jemaat JKI Semarang).
Dari buku-buku mereka, aku baru tau kalo neraka itu sedemikian mengerikannya. Kadang ndak kuat bacanya, sampe nangis. Bayangin gimana kalo kita liat seseorang yang dalam keadaan sadar, dikerat daging sedikit demi sedikit sampai tampak organ dalam. Jelas orang itu gak cuma nangis dan njerit, pasti dia berusaha lari. Percuma. Orang yang ditetapkan di neraka gak akan bisa lari atau minta tolong. Lalu organ dalam orang itu dikerat sampai habis. Lalu semua pulih lagi, lalu dikerat lagi, terus menerus begitu. Hanya ngebayangin aja, rasanya sakit..
Ada beberapa link tentang kesaksian mereka:
http://www.choothomas.com/
http://www.spiritlessons.com/Documents/BillWiese_23MinutesInHell_Text.htm -> ada pdf hasil transfer cd audionya
Last word, tetep smangat!!!
1 Tesalonika 5:9
Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus
Roma 6:23
Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.